Kamis, 04 April 2013

Pengukuran Sipat Datar Memanjang Pergi Pulang dan Profil Melintang

a. Pengukuran Menyipat Datar Memanjang Pergi Pulang
Pengukuran sipat datar memanjang digunakan apabila jarak antara dua stasiun yang akan ditentukan beda tingginya sangat berjauhan (berada di luar jangkauan jarak pandang). Sedang pengukuran sipat datar memanjang   pergi pulang merupakan salah satu jenis dari sekian banyak macam pengukuran sipat datar memanjang. Pengukuran sipat datar memanjang dilakukan untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti, karena dengan mengadakan dua kali pengukuran.




Gambar: Pengukuran sipat datar memanjang pergi pulang
b. Pengukuran Sipat Datar Profil Melintang
Pengukuran sipat datar profil melintang adalah pengukuran yang dilakukan untuk menentukan tinggi rendahnya tanah atau untuk mendapatkan bentuk permukaan titik sepanjang garis tertentu.Kegunaan dari pengukuran ini adalah sebagai dasar dalam menentukan volume galian dan timbunan   dalam   perencanaan pembuatan jalan raya, jalan kereta api, saluran irigasi, dsb. Pengukuran sipat datar profil melintang sendiri digunakan untuk menentukan tinggi rendahnya tanah sepanjang garis melintang yang tegak lurus dengan garis sumbu proyek.


Gambar : Pengukuran sipat datar profil melintang

PERALATAN DAN PERLENGKAPAN
1. Pesawat Penyipat Datar      5. Data board
2. Statif                                  6. Patok
3. Rambu ukur                       7. Alat tulis
4. Payung                               8. Alat hitung
LANGKAH KERJA
a. Pengukuran Sipat Datar Memanjang Pergi Pulang
1. Siapkan catatan , daftar pengukuran dan buat sket situasi yang akan diukur.
2. Tentukan dan tancapkan patok pada titik-titik yang akan dibidik (jarak antar titik ± 50 m).
3. Dirikan pesawat di antara titik P1 dan P2 kemudian lakukan penyetelan alat sampai di dapat kedataran.
4. Arahkan pesawat ke titik P1 dan baca benang tengahnya.
5. Putar teropong searah jarum jam dan arahkan teropong pesawat ke titik P2, baca dan catat benang tengahnya.
6. Pindahkan teropong pesawat di antara titik P2 dan P3 dan lakukan penyetelan alat sampai datar.
7. Arahkan pesawat ke titik P2 dan baca benang tengahnya.
8. Putar teropong searah jarum jam dan arahkan teropong pesawat ke titik P3, baca dan catat benang tengahnya.
9. Dengan cara yang sama, lakukan sampai titik yang terakhir. (pengukuran pergi).
10.Setelah pengukuran sampai pada titik yang terakhir, lakukan pengukuran kembali (pengukuran pulang) dari arah titik terakhir sampai ke titik awal dengan cara yang sama pada pengukuran pergi.
11.Lakukan perhitungan beda tinggi dan ketinggian masing-masing titik.
12.Gambar hasil pengukuran dan perhitungan.
13.Dirikan bak ukur di beberapa titik (sepanjang garis teropong) yang diperlukan sebagai titik detail di sebelah kiri titik P2. Kemudian baca dan catat benang tengahnya .
14.Putar pesawat searah jarum jam dengan besar sudut horizontal.
15.Dirikan bak ukur di beberapa titik (sepanjang garis teropong) yang diperlukan sebagai titik detail di sebelah kanan titik P2. Kemudian baca dan catat benang tengahnya.
16.Ukurlah tinggi pesawat dan jarak antar titik detail.
17.Dengan cara yang sama lakukan pengukuran profil melintang di atas tiap titik pokok sampai titik yang terakhir.
18.Hitung beda tinggi dan ketinggian masing-masing titik.
19.Gambar hasil pengukuran dan perhitungan.

LANGKAH PERHITUNGAN
a. Pengukuran Sipat Datar Memanjang Pergi Pulang
1. Beda Tinggi (∆h)
∆h P1-P2 = BTP1-BTP2   (∆h1)    pengukuran pergi
∆h P1-P2 = BTP1-BTP2   (∆h1’)    pengukuran pulang
∆h P1-P2 rata-rata = (∆h1+ ∆h1’) / 2
∆h P2-P3 = BTP2-BTP3   (∆h2)    pengukuran pergi
∆h P2-P3 = BTP2-BTP3   (∆h2’)    pengukuran pulang
∆h P2-P3 rata-rata = (∆h2+ ∆h2’) / 2
…dst
2. Ketinggian Titik
Bila tinggi titik P1 diketahui TP1
maka TP2 = TP1 + ∆h P1-P2 rata-rata
maka TP3 = TP2 + ∆h P2-P3 rata-rata       …dst
b. Pengukuran Sipat Datar Profil Melintang
1. Beda Tinggi (∆h)
Pesawat berdiri di atas titik P1
∆h P1-a  = ta – Bta   ta = tinggi alat di titik P1
∆h P1-b = ta – BTb    …dst
Pesawat berdiri di atas titik P2
∆h P2-a  = ta – Bta   ta = tinggi alat di titik P2
∆h P2-b = ta – BTb                         …dst
2. Ketinggian Titik
Bila tinggi titik P1 diketahui TP1
maka Ta = TP1 + ∆h P1-a
Tb = TP1 + ∆h P2-b  
…dst
Bila tinggi titik P2 diketahui TP2
maka Ta = TP2 + ∆h P2-a
Tb = TP2 +∆h P2-b    ...dst

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar